Selasa, 13 November 2012

Analisis Laporan Keuangan (A. Kebangkrutan)



Analisis Kebangkrutan
Analisis terhadap peluang kebangkrutan suatu perusahaan dipandang penting bagi suatu perusahaan. Analisis ini mencakup penggunaan model-model prediksi kebangkrutan yang meliputi:
a.      Model Univariat
Model univariat dalam prediksi kebangkrutan suatu perusahaan digunakan untuk mengkaji hubungan antara rasio keuangan tertentu dengan kebangkrutan suatu perusahaan.
Model ini dikembangkan oleh William Beaver yang mulanya meneliti 29 rasio keuangan perusahaan selama lima tahun dengan menggunakan sample perusahaan bangkrut dan tidak bangkrut. Dari hasil penelitian tersebut, Beaver menemukan enam rasio keuangan yang dianggap mempunyai daya pembeda (discriminating power) yang sangat baik yang dapat membedakan perusahaan yang sehat dan tidak sehat. Keenam rasio keuangan tersebut adalah:
1.      Laba bersih sebelum depresiasi, deplesi, dan amortisasi terhadap total kewajiban (net income before depreciation, depletion, & amortization to total liabilities)
Rasio ini menunjukkan risiko solvabilitas jangka panjang, dimana hasil pengukurannya menunjukkan besarnya arus kas dari kegiatan operasi yang tersedia untuk dapat memenuhi seluruh kewajiban perusahaan. Semakin besar rasio ini maka semakin kecil risiko bagi perusahaan. Sebaliknya, semakin kecil rasio ini maka semakin besar risiko bagi perusahaan.

2.      Laba bersih terhadap total aktiva (net income to total assets)
Rasio ini menunjukkan tingkat profitabilitas perusahaan, dimana hasil pengukurannya menunjukkan tingkat produktivitas aktiva yang diinvestasikan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih.
3.      Total utang terhadap total aktiva (total debt to total assets)
Rasio ini menunjukkan risiko solvabilitas jangka panjang perusahaan, dimana hasil pengukurannya menunjukkan besarnya pendanaan utang yang digunakan untuk membiayai seluruh aktiva perusahaan. Semakin besar rasio ini maka semakin besar risiko bagi perusahaan. Sebaliknya, semakin kecil rasio ini maka semakin kecil risiko bagi perusahaan.
4.      Modal kerja bersih terhadap total aktiva (net working capital to total assets)
Rasio ini menunjukkan risiko likuiditas jangka pendek perusahaan, dimana hasil pengukurannya menunjukkan struktur aktiva perusahaan. Semakin besar rasio ini maka semakin kecil risiko bagi perusahaan. Sebaliknya, semakin kecil rasio ini maka semakin besar risiko bagi perusahaan.
5.      Aktiva lancar terhadap kewajiban lancar (current assets to current liabilities)
Rasio ini menunjukkan risiko likuiditas jangka pendek perusahaan, dimana hasil pengukurannya menunjukkan besarnya aktiva lancar yang tersedia untuk dapat memenuhi kewajiban lancar perusahaan. Semakin besar rasio ini maka semakin kecil risiko bagi perusahaan. Sebaliknya, semakin kecil rasio ini maka semakin besar risiko bagi perusahaan.
6.      Kas, surat-surat berharga, piutang usaha terhadap beban-beban operasi tidak termasuk depresiasi, deplesi, dan amortisasi (cash, marketable securities, account receivable to operating expenses excluding depreciation, depletion, & amortization)
Rasio ini menunjukkan risiko likuiditas jangka pendek perusahaan, dimana hasil pengukurannya menunjukkan tersedianya alat likuiditas untuk dapat memenuhi beban-beban operasi tunai perusahaan. Semakin besar rasio ini maka semakin kecil risiko bagi perusahaan. Sebaliknya, semakin kecil rasio ini maka semakin besar risiko bagi perusahaan.
b.      Model Multivariat,
Model multivariat merupakan suatu model yang mengkombinasikan beberapa rasio keuangan secara bersama-sama (simultan) memprediksi kebangkrutan suatu perusahaan. Dalam model Multivariat ini, terdiri dari:
1.      Model Z-Score
Model Z-Score merupakan salah satu model multivariat telah dikembangkan oleh Edward Altman. Model ini dikembangkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Altman yang memilih sampel beberapa perusahaan yang bangkrut dan perusahaan yang sehat pada ukuran dan industri yang sama. Dari hasil penelitian Altman menemukan lima rasio keuangan yang dianggap paling baik membedakan perusahaan yang sehat dan bangkrut. Kelima rasio keuangan tersebut adalah:
a)      Modal kerja bersih terhadap total aktiva (net working capital to total assets = X1)
Rasio ini menunjukkan risiko likuiditas jangka pendek perusahaan, dimana hasil pengukurannya menunjukkan struktur aktiva perusahaan. Semakin besar rasio ini maka semakin kecil risiko bagi perusahaan. Sebaliknya, semakin kecil rasio ini maka semakin besar risiko bagi perusahaan.
b)      Laba ditahan terhadap total aktiva (retained earnings to total assets = X2)
Rasio ini menunjukkan profitabilitas perusahaan, dimana hasil pengukurannya menunjukkan tingkat penggunaan laba ditahan untuk membiayai aktiva perusahaan.
c)      Laba sebelum bunga dan pajak terhadap total aktiva (earnings before interest and taxes to total assets = X3)
Rasio ini menunjukkan tingkat profitabilitas perusahaan, dimana hasil pengukurannya menunjukkan tingkat produktivitas aktiva yang diinvestasikan perusahaan dalam menghasilkan laba operasi perusahaan.
d)     Nilai pasar ekuitas terhadap nilai buku kewajiban (market value of equity to book value of liabilities = X4)
Rasio ini menunjukkan risiko solvabilitas jangka panjang perusahaan serta penilaian terhadap profitabilitas, dimana hasil pengukurannya menunjukkan struktur pendanaan yang digunakan untuk membiayai seluruh aktiva perusahaan. Semakin besar rasio ini maka semakin kecil risiko bagi perusahaan. Sebaliknya, semakin kecil rasio ini maka semakin besar risiko bagi perusahaan.
e)      Penjualan terhadap total aktiva (sales to total assets = X5)
Rasio ini menunjukkan tingkat profitabilitas perusahaan, dimana hasil pengukurannya menunjukkan tingkat produktivitas aktiva yang diinvestasikan perusahaan dalam menghasilkan pendapatan.
Berdasarkan rasio keuangan tersebut sebagai variabel prediktor ditemukan model prediksi sebagaimana ditunjukkan pada Persamaan :
Standar Penilaian (Cut off point) Model Z-Score
Ukuran
Keterangan
Z-Score < 1,81
Peluang bangkrut besar
Z-Score > 3,00
Peluang bangkrut kecil
1,81 ≤ Z-Score  ≤ 3,00
Daerah abu-abu

2.      Model Logit (Ohlson)
Salah satu Model Multivariat yang lain adalah Model Analisis Logit (logit analysis) yang dikembangkan oleh James A. Ohlson. Pada model ini, Ohlson menemukan sembilan rasio keuangan sebagai variabel prediktor yang dianggap paling baik yaitu:
a)      Logaritma alam (ln) total aktiva terhadap Deflator GNP (natural log of total assets to GNP implicit Price Deflator Index = SIZE)
b)      Total kewajiban terhadap total aktiva (total liabilities to total assets = TLTA)
c)      Aktiva lancar kurang kewajiban lancar terhadap total aktiva (current assets – current liabilities to total assets = WCTA)
d)     Kewajiban lancar  terhadap aktiva lancar (current liabilities to current assets = CLCA)
e)      Laba bersih terhadap total aktiva (net income to total assets = NITA)
f)       Dana dari operasi terhadap total kewajiban (funds from operations to total liabilities = FUTL)
g)      Variabel dummy yaitu bernilai satu jika laba bersih negatif selama dua tahun terakhir dan bernilai nol jika tidak demikian (one if net income was negative for the last two years and zero otherwise = INTWO)
h)      Variabel dummy yaitu bernilai satu jika total kewajiban melebih total aktiva dan bernilai nol jika tidak demikian (one if total liabilities exceed total asset and zero otherwise = OENEG)
i)        (Laba bersiht – Laba bersiht-1)/(│Laba bersiht│ +│Laba bersiht-1│) = CHIN
j)        Kriteria penilaian:
k)      Cut off point = 3,8%, jadi jika p > 3,8% berarti perusahaan berpeluang bangkrut

Berdasarkan kesembilan variabel prediktor tersebut, Ohlson menetapkan fungsi multivariat sebagaimana ditunjukkan pada Persamaan
 

Selanjutnya untuk menghitung peluang kebangkrutan dapat digunakan formulasi sebagaimana ditunjukkan pada Persamaan :
 
Keterangan:     p = adalah peluang kebangkrutan
e = adalah bilangan logaritma bernilai 2,718282
y = adalah fungsi multivariat


Tidak ada komentar:

Posting Komentar